PRAMUNIAGA
Dimual di Majalah Olga edisi 45 November 2007
Aku gagal lolos SPMB tahun ini. Impianku menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran terpaksa tertunda. Mau ikut jalur khusus? Mimpi apa aku punya uang begitu banyak. Tapi aku tidak putus asa. Aku telah siap dengan agenda yang telah dirancang sebelum mengikuti SPMB. Aku tahu lolos SPMB itu tidak mudah. Banyak kendala, banyak halangan. Khawatir dengan kemungkinan yang terjadi, maka aku membuat rencana, andai aku tidak diizinkan berkuliah tahun ini.
Ternyata Tuhan memang berkehendak begitu. Mungkin Ia tak mau rencana-rencana yang telah kususun dengan apiknya sia-sia terlempar ke dalam tong sampah. Sedikit berat hati akhirnya aku menjalankan rencana itu. Ya! Aku harus membawanya dengan penuh kenyamanan. Toh sudah takdirnya!
Aku Naura. Umurku genap 18 tahun pada bulan kemarin dan rencana yang pertama aku jalankan adalah mengikuti kursus menjahit. Jangan tertawa membacanya! Itu adalah usul Ibuku dan ternyata cukup menyenangkan. Sekarang aku bisa menjahit baju sendiri. Kalau aku jadi dokter nanti, mungkin keahlian ini bisa dipakai. Dokter bedah juga suka jahit-menjahit kan? ^o^
Rencana kedua adalah mengikuti bimbingan belajar. Waktu SMA aku mengikuti bimbilangan belajar saat menghadapi ujian akhir dan SPMB, tapi hasilnya memble. Sekaranglah aku harus lebih serius, bersemangat, dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!
Rencana ketiga adalah magang. Ini impianku sejak SMA. Hanya saja Ibu tak mengizinkan aku kerja part time, takut mengganggu waktu belajar katanya. Padahal aku ingin punya uang sendiri!
Masih banyak rencana lainnya. Itu aku lakukan agar aku punya kesibukan. Setidaknya aku tidak hanya meratapi diri di dalam kamar atau tertinggal pengalaman dari teman-temanku yang sebagian besar telah terdaftar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi.
* * *
Akhirnya dalam tempo 3 bulan aku diterima bekerja di sebuah toko buku besar di kotaku. Ya, walaupun hanya jadi pramuniaga. Tepatnya sih kasir. Tapi aku lebih suka disebut pramuniaga, atau orang yang melayani proses niaga. Tugasku adalah menghitung jumlah harga yang harus dibayar oleh pembeli.
Sebagai pramuniaga pun aku dituntut untuk tampil menarik. Sialnya aku nggak biasa dandan! Terpaksa aku kursus dandan kilat pada Delima, sahabatku yang kini mengikuti pelatihan sekertaris.
Seragam yang diberikan oleh tempat kerjaku berwarna merah putih, layaknya bendera negeri kita tercinta. Aku menyukai seragam yang aku pakai. Seperti zaman SMA, aku sengaja memperkerut seragam kerjaku sehingga mencetak tubuhku yang kata banyak orang proporsional.
Niat awalku untuk mencari uang dan pengalaman ternyata hanya bertahan selama sebulan. Selanjutnya tiba-tiba otakku melayang dan menyuruh mataku untuk mencari pasangan di tempat ini. Ya, aku kesepian. Sebagai anak tunggal yang dipaksa ini-itu oleh orang tuaku, membuatku sedikit tertekan. Apalagi seumur hidupku, belum pernah kurasakan pacaran. Lagi pula aku enggan menggunakan umurku hanya untuk berpacaran. Aku pantang menangis dan kulihat teman-temanku menangis ketika putus dengan pacarnya. Menyakitkan, apalagi kalau aku yang mengalaminya sendiri.
Ternyata oh ternyata, aku kalah juga dengan kesendirian. Sekarang aku benar-benar butuh teman.
Setelah kunikmati sebulan pertamaku di tempat yang dipenuhi buku-buku ini, aku memutuskan kalau toko buku tempat yang tepat untuk mencari pasangan. Pertama, aku percaya orang yang gemar membaca adalah orang pintar. Walaupun orang yang datang ke toko ini lebih banyak yang mencari komik dan novel.
Kedua, di pojok-pojok tertentu ada mahasiswa keren yang mencari buku kuliah, ada cowok berseragam SMA mencari buku pelajaran, ada lelaki soleh yang berdiri di pojok buku agama, bahkan eksekutif muda datang ke toko buku ini. Ada banyak sudut-sudut rak yang ditaburi cowok-cowok keren, aku tinggal pilih.
Ketiga, pasti banyak dari mereka adalah cowok berduit. Setidaknya mereka bisa mengatur keuangan mereka, sehingga ada saja uang yang disisihkan untuk membeli buku. Bukankah biasanya buku adalah prioritas terakhir setelah makan, pakaian, juga kebutuhan lain yang katanya lebih penting.
Keempat, ya... kepepet. Kalau nggak, aku harus nyari dimana coba? Aku kan lebih sering di tempat ini daripada di tempat lain!
“Ra, ngelamun aja!” tegur Salsa, pramuniaga di meja sebelahku.
“Abisnya pembeli sepi, mending ngelamun.”
“Ngelamunin cowok-cowok lagi? Udah deh, mendingan kamu baca buku. Katanya mau lulus SPMB tahun depan. Kamu kan pintar, sayang loh,” nasihat Salsa yang usianya 2 tahun lebih tua dariku. Ia memilih bekerja bukan berarti tidak ingin kuliah. Salsa sedang mengumpulkan uang dan kalau nanti sudah cukup, ia ingin kursus saja. Zaman sekarang yang dibutuhkan adalah keterampilan dibanding otak. Apalagi Salsa lebih suka berkerja sendiri daripada dibawah suruhan orang lain.
“Ah, Salsa tahu aja! Nggak apa-apa kok, aku nggak akan gila hanya karena mikirin makhluk dari Venus itu!”
Salsa menggelengkan kepalanya. Kok ada calon dokter yang aneh seperti Naura, begitu batinnya.
* * *
“Pst! Sa!” panggilku pelan pada Salsa. Matanya hanya menoleh sesaat kearahku sambil mengangkat sedikit. Cukup memberi arti agar aku melanjutkan perkataanku tanpa harus menunggunya mengatakan, “Apa?”
“Jam 1!”
“Makan siang?”
“Cowok!”
Beneran. Cowok tulen! Dia memakai kemeja berwarna biru laut, teduh aku melihatnya. Dari arah jam 1, ia berjalan menuju kassa. Ya ampun, di lantai ini kan hanya ada dua kassa. Kassaku dan kassa Salsa. Aku tersenyum cukup lebar untuk menarik perhatiannya. Akhirnya dia menghampiri kassaku dan menaruh dua buku tebal di atas meja kasir. Buku pertama adalah kamus Indonesia-Prancis, wah... romantis! Begitu orang bilang tentang bahasa Prancis. Tapi tidak bagiku, sangat menyulitkan mengucapkan kata dalam bahasa yang dipakai di negara yang memiliki ibu kota Paris. Buku kedua, buku tuntunan agama. Hmm, boleh juga.
Kupaksakan mulutku berucap, “Bisa bahasa Prancis?”
“Adik, bukan saya,” jawabnya terburu-buru. Matanya tak menatap kerahku. Huh! Sombong!
“Kakak yang baik ya, mau beliin buat adik,” aku tersenyum sok imut. Berapa sih usia cowok ini? Dua puluh empat? “Kalau buku yang ini?”
“Buat Kakek saya. Umur dia kan nggak lama lagi, buku kayak gitu penting buat dia.”
Ih! Amit-amit banget nih cowok! Ternyata penampilan memang nggak pernah sesuai dengan isinya.
“71.500,” kataku kesal.
Dia lalu memberikan selembar seratus ribuan. Di dompetnya ada fotonya dengan cewek cantik. Siapa pun cewek itu, kasihan sekali telah mengenal cowok yang mengesalkan itu!
“Ehm!” dehem Salsa setelah cowok rese itu pergi. Aku hanya mendelik kesal kearahnya. “Tugas kamu hanya senyum, menghitung belanjaan mereka, menerima uang, dan ucapkan terima kasih. Nggak usah pake acara rayu-merayu!” lanjut Salsa.
* * *
Tiga hari berlalu. Salsa pikir aku akan kapok dengan ulahku kemarin. Nyatanya aku tetap tergiur oleh cowok-cowok yang berkeliaran sambil menenteng buku.
Kali ini mataku terpaku pada cowok berambut berantakan yang tengah mendorong temannya menuju rak komik. Kayaknya aku kenal banget sama cowok itu.
“Ra! Jangan bengong gitu! Ada yang mau bayar tuh!” Salsa lagi-lagi mengganggu kegiatanku yang amat sangat penting ini.
Kalau saja nggak ada orang yang akan membayar buku di depan kassaku, mataku masih betah mengekori cowok kurus berbaju serba hitam itu. Sambil menghitung harga yang harus dibayar oleh pembeli yang ternyata seorang Ibu berjilbab, aku sesekali mencuri pandang kearah incaranku. Lucu...!
“Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum, mengantar kepergian Ibu tadi.
Setelah itu mataku berlari. Kemana, kemana?
“Rak majalah.”
Hehehe, aku cengengesan. Ternyata Salsa ngeh aku lagi ngincer orang. Bener deh, aku kenal dia. Tapi kok yang ini badannya lebih gede ya? Kelihatanya juga amburadul! Apa dia kakak orang yang kukenal itu ya? Ah, siapa sih?
“Reo!”
“Siapa?”
“Cowok itu namanya Reo! Dia kan kecengan aku waktu SMP, tapi sayang dulu dia udah punya cewek. Lagi pula aku nggak pernah berani nunjukin perasaanku sama dia. Lucu ya, Sa?”
“Iya.”
Tuh kan! Salsa aja sependapat. Reo itu memang lucu kok! Kulitnya kuning, matanya dihiasi bulu mata yang super lentik, hidungnya semi mancung, alis matanya juga tebel. Oh..., aku jadi ingat masa lalu itu.
“Ra! Dia keluar dari toko tuh!” ujar Salsa yang ternyata memperhatikan Reo.
“Oh, tidak!!! My Reo!!!”
* * *
Waktu itu hari Sabtu, jadi aku terus menunggu Sabtu-Sabtu berikutnya dan berharap bisa bertemu lagi dengan Reo, juga merencankan pertemuan-pertemuan berikutnya setelah pertemuan pertama.
Setelah melihat Reo di tempat ini, aku tidak pernah membiarkan mataku belanja. Aku hanya menunggu Reo. Hasilnya, Salsa memuji kerjaku yang semakin giat dan tak pernah melamun lagi.
Penantianku berakhir juga. Reo menunjukkan batang hidungnya. Kali ini tanpa siapa pun yang menemani. Kesempatan emas bagiku, mudah-mudahan dia nggak cuma celingak-celinguk di tempat ini.
Tak sampai lima menit Reo telah mendapatkan buku yang dicari dan tidak berkeliling melihat buku lain seperti Sabtu dulu. Rupanya dia telah merencanakan untuk membeli buku yang kini dibawanya menuju kassa.
Loh kok? Kenapa ke kassa Salsa. Disini kan kosong!
“Silahkan ke kassa sebelah,” ujar Salsa seraya mengedipkan matanya padaku.
Thanks!
“30 ribu rupiah. Novel cinta?” tanyaku heran tanpa menatap matanya.
“Untuk pacar saya,” jawabnya sambil menyodorkan lima puluh ribuan.
“Oh. Uangnya 50 ribu, kembali 20 ribu. Terima kasih.”
Reo berlalu dengan angkuhnya, sama seperti dulu. Dia selalu berjalan dengan mengangkat kepala dan berbusung dada. Tapi memang itu yang membuatnya menarik di mata para cewek. Aku juga masih sama seperti dulu, malu untuk menunjukkan rasa. Sepertinya, niatku bekerja di tempat ini akan segera berubah sesaat lagi. Huf...
* * *
Sabtu, 28 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar