Sabtu, 28 Maret 2009

Cerpenku 1

MENGGAPAI AWAN
Dimuat di Muslimah edisi 48 Maret 2006
Tekad Nila untuk menjadi orang kaya sudah bulat. Bukan hanya orang kaya harta tapi juga kaya hati. Kemarin sore Nila mampir ke rumah Rasyid. Siapa sangka lelaki berumur 23 tahun itu sekarang menjadi kaya raya? Padahal Nila mengenal Rasyid sebagai tukang jualan pakaian yang biasa keliling kampung.
“Akang hebat ya! Tiga tahun di kota bisa beli tanah seluas ini,” puji Nila sambil memandangi ladang yang baru dibeli oleh Rasyid. Hari ini Nila diajak oleh Rasyid berkeliling kampung. Kebiasaan yang tak pernah dilakukan sejak kepergiaan lelaki yang selalu berkemaja itu.
“Alhamdulillah,La! Itu juga berkat doa kalian disini, doa kamu juga!” jawab Rasyid tanpa mengalihkan pandangannya dari alam. Mungkin kini ia sedang bersyukur kepada Allah atas anugrah yang diberikan-Nya. Ah, rezeki manusia memang sudah ada bagiannya masing-masing. Nila tak sabar untuk ketiban rezeki itu. Mungkin sore nanti, besok, lusa, atau tahun depan?
“Jadi sekarang rencana kamu apa?” tanya Rasyid menghalau kebekuan.
Nila bingung ditanya begitu. Enam bulan yang lalu ia baru saja mendapatkan ijazah kelulusan dari SMA-nya. Tapi apa yang kini bisa ia lakukan dengan ijazah itu? Hanya menemani Ibu jualan gado-gado dan menjaga Ruli, adiknya yang berumur 10 tahun. Nila cuma pengen kaya! Titik!
“Belum direncanain ya?” tanya Rasyid lagi.
“Oh? Iya, Nila belum punya rencana.” Nila menjawab dengan terpaksa. Padahal dibenaknya bayangan itu sudah menggapai dirinya, mencoba mengajaknya untuk meraih apa yang ia impikan.
“Kamu pikir dulu matang-matang. Kalau memang mau pergi ke kota, hati-hati, disana itu kan berbahaya. Kamu gadis nggak baik pergi ke tempat ramai sendirian. Heh…,apalagi yang namanya kota!” nasehat Rasyid sambil mencabuti ilalang yang lalu ia rangkai menjadi satu.
Nila tercengang. Bagaimana mungkin Rasyid tahu apa yang sedang ia pikirkan? Nila memang berniat untuk pergi ke kota. Apalagi setelah mengetahui keberhasilan sahabat kecilnya itu.
“Kamu belum pernah ke kota kan?” tanya Rasyid yang lalu manjatuhkan dirinya diatas tanah tandus.
Nila menggelengkan kepalanya lemas.
“Kota itu…,apa ya? Pertama kali Akang nginjek kaki di kota, panas! Nggak ada sejuknya sama sekali kayak di kampung kita ini. Mobil dimana-mana, macet. Orangnya banyak banget, La! Akang aja kaget ngeliatnya,” cerita Rasyid.
“Banyak perempuan cantik ya, Kang? Itu kayak di film-film,” tanya Nila lugu. Membuat tawa Rasyid meledak. Ini bagian yang tidak Nila suka dari diri Rasyid. Tertawa yang menjatuhkan, seakan-akan Nila adalah orang paling bodoh di dunia hanya karena menanyakan hal yang ia tidak tahu.
“Banyak! Banyak sekali! Soalnya mereka dandan, nggak kayak orang kampung. Cuman bajunya kurang bahan. Akang nggak abis pikir orang kaya kok beli bahan diirit-irit,” jawab Rasyid bercanda.
“Oh…, kalau orang baiknya banyak nggak?” tanya Nila lagi.
“Ya banyak! Cuma nggak sebanyak di kampung. Orang baik di kota gampang di hitung. Orang jahat berkeliaran, cuma nggak keliatan. Mereka sudah terlatih untuk menyembunyikan keburukan dalam dirinya. Penampilan baik, ramah, bersahaja, padahal hatinya?” Rasyid menumpahkan kekesalannya.
“Buruk? ”
“Yang Akang lihat sih begitu. Oh ya, jangan salah loh, orang miskin di kota banyak! Kalau kamu nggak pintar bersaing, bisa-bisa kamu tersisih dan menjadi gelandangan.” Rasyid menakuti.
“Ih! Akang jangan nakut-nakutin dong!”
“Iya,maaf atuh! Eh, ayo kita berlomba berlari ke pohon itu!” ajak Rasyid setelah mengacak-acak rambut Nila dan berlari menuju pohon tua di atas bukit. * * *
“Awan yang itu mirip apa?”
“Uang!!”
“Akang mikirin uang aja! Itu kan mirip …ehm…duit! Hahaha!!”
“Yey…! Sama aja atuh, Neng! Hem…,kenapa ya awan-awan itu tampak seperti uang? Baunya saja tercium sampai kesini. Akang udah nggak sabar untuk menggapai awan! Akang bosan jadi orang miskin.” Rasyid kecil berkhayal lalu memejamkan matanya.
“Iya Nila juga sebel! Sebel sama Bapak yang nggak mau kerja, kasihan Ibu kerja berat. Capek! Tapi uangnya sedikit!” Nila menendang batu-batu kecil dihadapannya.
“Kita berjanji, untuk menjadi orang kaya di kemudian hari!” kata Rasyid kecil.
“Bener,Kang! Orang kaya harta, juga kaya hati,” tambah Nila bersemangat.
“Kita saling mendoakan ya, supaya impian kita tercapai!” Rasyid membuka matanya sambil tersenyum manis ke arah Nila.
Tak lama lelaki itu terbangun dari pembaringannya, “La! Kita berlomba ke pohon itu ya!” ajak Rasyid kecil sambil berlari meninggalkan Nila.
Nila terkejut dan berusaha mengejar Rasyid yang terus berlari kencang ke atas bukit. Namun, GUBRAK!!
“Ah…sakit!! Hiks…hiks…,” Nila tersandung batu dan terjatuh.
Rasyid kecil menghentikan langkahnya. Lalu berlari mendekati sahabat kecilnya, “Ah, Cuma lecet aja kok! Sini Akang gendong! “
Rasyid kecil menggendong Nila di atas punggungnya. Berat memang, tapi mereka bertekad untuk menggapai awan bersama.
* * *
Nila berguling-guling di atas kasur kapuknya. Padahal jam telah menunjukkan pukul 12. Disampingnya Ibu sudah terlelap. Di wajahnya tersirat rasa lelah. Ah, Ibu memang tidak ada duanya! Kerja keras Ibu yang membuat Nila dapat menuntut ilmu setinggi ini. Ibu yang menyemangati dirinya untuk terus berjuang melawan rasa malas dan gengsi karena Nila hanya seorang miskin di sekolahnya.
Nila tersenyum memandangi Ibu yang mungkin sekarang tengah bermimpi indah. “ Ya Allah, berikanlah segala yang terbaik untuk Ibuku. Ia adalah Ibu terbaik yang pernah ada, berikanlah ganjaran setimpal untuknya. Amien…” Nila terlelap setelah mengecup kening Ibunya.
Dalam lelapnya Nila tak tahu jika Ibu terbangun dari mimpinya. “ Terima kasih,Nak! Ya Allah, pintaku, jadikanlah gadisku wanita salehah yang cerdas dan senantiasa mencintai-Mu diatas segala-galanya. Amien… Nak, kaya harta tak menjajikan dirimu masuk surga. Tekadkan dalam hatimu untuk menggapai kaya hati…,” Ibu membisikkan kata-katanya pada telinga Nila. Malam itu terasa panjang dan semuanya terlelap.
Pagi harinya setelah Nila mengantarkan Ruli pergi ke sekolah, ia menemani Ibunya meladangi pembeli gado-gado di depan rumahnya. Nila baru saja memotong kacang panjang ketika Ibu tiba-tiba menanyakan sesuatu.
“Bagaimana reaksimu setelah melihat Rasyid sekarang?” tanya Ibu yang terus mengulek bumbu gado-gado.
“Nila senang, Bu. Akhirnya impian Kang Rasyid tercapai. Nila bangga sama Kang Rasyid, dalam waktu yang sebentar merantau ke kota, ia sudah mendapatkan banyak hasil dari keringatnya,” di bibir Nila senyum terkembang.
“Memangnya Rasyid kerja apa?” tanya Ibu penasaran.
Nila baru sadar kalau ia sama sekali tidak tahu apa yang Rasyid kerjakan di tempat yang konon penuh kemacetan, kejahatan, dan kebobrokan budaya.
“ Nila juga nggak tahu, Bu. Kang Rasyid belum cerita. Ehm… Bu, kalau Nila pergi ke kota bagaimana?” tanya Nila ragu-ragu. Sebenarnya ia takut untuk mengutarakan keinginannya itu. Hanya saja tekadnya sudah bulat.
Ibu menghentikan ulekannya. Ia lalu terduduk dia atas kursi kayu yang sudah ada sejak Nila kecil. Ibu membasuh peluhnya dengan ujung jilbab. Pandangannya berputar menggelilingi langit-langit teras rumah, tempat berjualan gado-gado.
“Nggak perlu di jawab kok Bu, nggak penting. Nila cuma…,” Nila menghentikan ucapannya saat Rasyid tiba-tiba sudah ada dihadapannya.
“Assalamu’alaikum!!” sapanya ceria. Seceria mentari pagi di ufuk timur.
“Ih! Kang Rasyid bikin kaget aja! Untung aja nih pisau nggak bersarang di muka Akang, “ Nila terkejut dengan pisau di genggamannya teracung tinggi.
“Eits! Jangan sampai…,ngomong-ngomong salam Akang belum dijawab!”
“Oh…Wa’alaikumussalam…Akang mau kemana?” tanya Nila.
“Mau ngajak Nila jalan-jalan lagi.” Kang Rasyid menduduki kursi di hadapan Nila. Tangannya menopang dagu. Pagi itu Rasyid terlihat lebih rapih dan… wangi!
“Mau kemana, Syid? Bawa anak gadis, minta izin dulu sama Ibunya,” kata Ibu sambil membawa secangkir teh hangat.
“Eh, Ibu… Rasyid mau ngajak Nila ke bukit pohon tua. Sudah lama nggak pernah main kesana bareng Nila.” kata Rasyid terkejut mengetahui Ibu ada di tempat itu. Saking semangatnya, Rasyid nggak sadar kalau sebenarnya Ibu dari tadi sedang duduk di pojok teras.
Ibu menghela nafas, “Ya sudah sana! Tapi waktu makan siang sudah pulang ya!” pinta Ibu.
“Sip,Bu!! Makan siang gratis ya?” kata Rasyid yang lalu menyalami tangan Ibu yang semakin keriput. Ibu mendesah dalam hati, mudah-mudahan kota tidak merubah hati Rasyid yang bersih.
* * *
“Kalau awan itu sudah Akang gapai, kamu gimana, La?” Tanya Rasyid.
“Nila seneng Akang sudah menggapai awan itu. Mungkin awan di langit itu masih terlihat seperti tumpukan uang di mata Nila. Tapi nggak di mata Akang. Pasti Akang juga nggak mencium bau uang lagi, karena Akang sudah menggapai awan-awan itu. Kalau Nila berpikir picik, Nila mungkin membenci Akang sekarang. Akang janji untuk saling mendoakan agar kaya harta, kaya hati. Tapi hasilnya? Curang! Hanya Akang yang kaya.” Nila memajukan bibirnya, manyun.
“Hahaha!!! Akang nggak nyangka kamu berpikir seperti itu. Akang pikir kamu akan senang, bangga, kagum pada apa yang Akang raih.” lagi-lagi Rasyid tertawa menyepelekan, dan Nila tidak suka itu.
“Kang, Nila bangga, kagum, senang!! Tapi apa yang bisa Akang banggakan pada diri Nila? Nila memang belum punya apa-apa, apalagi uang!” Nila terlanjur membasahi pipinya dengan air mata luka.
“Nila, Akang bangga dengan apa yang Nila punya. Ingat janji kita, kaya harta kaya hati. Mungkin Akang sudah kaya harta, tapi hati? Hatimu lebih kaya daripada hati Akang.Yang pasti, untuk menjadi kaya tak perlu untuk pergi ke kota. Cukup dengan selalu ada di samping Akang, jadi pendamping Akang, kita bisa kaya harta, kaya hati. Awan itu kita gapai bersama-sama Nila, kita benar-benar sudah menggapai awan itu!” ucap Rasyid sambil memandangi awan-awan putih di langit biru.
“Bener, Kang? Bagaimana bisa?” tanya Nila sambil menghapus air matanya.
“Coba kamu lihat awan itu? Tidak nampak seperti uang kan?”
“Iya…”
“Coba kamu hirup dalam-dalam baunya?”
“Hanya tercium bau padang rumput dan bunga yang bermekaran. Tapi Kang..”
“Kenapa? Masih kecium?”
“Iya! Akang kentut ya? Kok aromanya nggak sedap sih?”
“Eh, kurang ajar kamu ya!
“Hahaha…Ayo kita berlomba ke pohon itu!!!”
Mereka berlari menuju pohon tua di atas bukit. Satu-satunya saksi bisu yang mendengarkan janji mereka. Saat ini janji itu telah terpenuhi. Mereka sudah benar-benar kaya ! Kaya harta, kaya hati. Mudah-mudahan…
* * *
Sementara itu sekomplotan pengedar narkoba di kota sedang merencanakan sesuatu. Tempat yang gelap, kumuh, penuh dengan serangga menjijikan.
“Bagaimana ini? Sudah seminggu Rasyid menghilang membawa lari uang kita!”
“Kurang ajar! Cerdas sekali pria muda itu! Alamatnya saja tidak ada yang tahu! Kalau saja uang yang ia bawa tak sebanyak itu! GILA!! Ya sudah, kita cari saja dia, masih banyak waktu. Mudah-mudahan dia tidak melaporkan kita pada polisi.”
“Mana mungkin? Dia berkomplot dengan kita kan?”
Tok…tok…tok…Suara pintu diketuk keras.
“Siapa itu?”Tanya lelaki bertubuh besar dengan suara serak.
“Godeg, Bang! Ada kabar tentang Rasyid!”
“Masuk!”
“Permisi, Bang.Kemarin ada yang mergokin Rasyid di kampungnya dengan seorang gadis berkepang dua.”
“HAHAHA!! Anak ingusan itu sudah nampak di depan mata. Bersiaplah kita kejar Rasyid hingga ujung dunia!! Dasar makhluk licik! AYO!!”
Komplotan itu meninggalkan sarangnya. Bergegas menemukan lelaki yang telah membawa lari uang hasil penjualan narkoba yang tak terkira jumlahnya. Besok atau lusa lelaki berkemeja itu pasti sudah tak bernyawa …
* * *

Cerpenku 2

PRAMUNIAGA

Dimual di Majalah Olga edisi 45 November 2007

Aku gagal lolos SPMB tahun ini. Impianku menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran terpaksa tertunda. Mau ikut jalur khusus? Mimpi apa aku punya uang begitu banyak. Tapi aku tidak putus asa. Aku telah siap dengan agenda yang telah dirancang sebelum mengikuti SPMB. Aku tahu lolos SPMB itu tidak mudah. Banyak kendala, banyak halangan. Khawatir dengan kemungkinan yang terjadi, maka aku membuat rencana, andai aku tidak diizinkan berkuliah tahun ini.
Ternyata Tuhan memang berkehendak begitu. Mungkin Ia tak mau rencana-rencana yang telah kususun dengan apiknya sia-sia terlempar ke dalam tong sampah. Sedikit berat hati akhirnya aku menjalankan rencana itu. Ya! Aku harus membawanya dengan penuh kenyamanan. Toh sudah takdirnya!
Aku Naura. Umurku genap 18 tahun pada bulan kemarin dan rencana yang pertama aku jalankan adalah mengikuti kursus menjahit. Jangan tertawa membacanya! Itu adalah usul Ibuku dan ternyata cukup menyenangkan. Sekarang aku bisa menjahit baju sendiri. Kalau aku jadi dokter nanti, mungkin keahlian ini bisa dipakai. Dokter bedah juga suka jahit-menjahit kan? ^o^
Rencana kedua adalah mengikuti bimbingan belajar. Waktu SMA aku mengikuti bimbilangan belajar saat menghadapi ujian akhir dan SPMB, tapi hasilnya memble. Sekaranglah aku harus lebih serius, bersemangat, dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!
Rencana ketiga adalah magang. Ini impianku sejak SMA. Hanya saja Ibu tak mengizinkan aku kerja part time, takut mengganggu waktu belajar katanya. Padahal aku ingin punya uang sendiri!
Masih banyak rencana lainnya. Itu aku lakukan agar aku punya kesibukan. Setidaknya aku tidak hanya meratapi diri di dalam kamar atau tertinggal pengalaman dari teman-temanku yang sebagian besar telah terdaftar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi.
* * *
Akhirnya dalam tempo 3 bulan aku diterima bekerja di sebuah toko buku besar di kotaku. Ya, walaupun hanya jadi pramuniaga. Tepatnya sih kasir. Tapi aku lebih suka disebut pramuniaga, atau orang yang melayani proses niaga. Tugasku adalah menghitung jumlah harga yang harus dibayar oleh pembeli.
Sebagai pramuniaga pun aku dituntut untuk tampil menarik. Sialnya aku nggak biasa dandan! Terpaksa aku kursus dandan kilat pada Delima, sahabatku yang kini mengikuti pelatihan sekertaris.
Seragam yang diberikan oleh tempat kerjaku berwarna merah putih, layaknya bendera negeri kita tercinta. Aku menyukai seragam yang aku pakai. Seperti zaman SMA, aku sengaja memperkerut seragam kerjaku sehingga mencetak tubuhku yang kata banyak orang proporsional.
Niat awalku untuk mencari uang dan pengalaman ternyata hanya bertahan selama sebulan. Selanjutnya tiba-tiba otakku melayang dan menyuruh mataku untuk mencari pasangan di tempat ini. Ya, aku kesepian. Sebagai anak tunggal yang dipaksa ini-itu oleh orang tuaku, membuatku sedikit tertekan. Apalagi seumur hidupku, belum pernah kurasakan pacaran. Lagi pula aku enggan menggunakan umurku hanya untuk berpacaran. Aku pantang menangis dan kulihat teman-temanku menangis ketika putus dengan pacarnya. Menyakitkan, apalagi kalau aku yang mengalaminya sendiri.
Ternyata oh ternyata, aku kalah juga dengan kesendirian. Sekarang aku benar-benar butuh teman.
Setelah kunikmati sebulan pertamaku di tempat yang dipenuhi buku-buku ini, aku memutuskan kalau toko buku tempat yang tepat untuk mencari pasangan. Pertama, aku percaya orang yang gemar membaca adalah orang pintar. Walaupun orang yang datang ke toko ini lebih banyak yang mencari komik dan novel.
Kedua, di pojok-pojok tertentu ada mahasiswa keren yang mencari buku kuliah, ada cowok berseragam SMA mencari buku pelajaran, ada lelaki soleh yang berdiri di pojok buku agama, bahkan eksekutif muda datang ke toko buku ini. Ada banyak sudut-sudut rak yang ditaburi cowok-cowok keren, aku tinggal pilih.
Ketiga, pasti banyak dari mereka adalah cowok berduit. Setidaknya mereka bisa mengatur keuangan mereka, sehingga ada saja uang yang disisihkan untuk membeli buku. Bukankah biasanya buku adalah prioritas terakhir setelah makan, pakaian, juga kebutuhan lain yang katanya lebih penting.
Keempat, ya... kepepet. Kalau nggak, aku harus nyari dimana coba? Aku kan lebih sering di tempat ini daripada di tempat lain!
“Ra, ngelamun aja!” tegur Salsa, pramuniaga di meja sebelahku.
“Abisnya pembeli sepi, mending ngelamun.”
“Ngelamunin cowok-cowok lagi? Udah deh, mendingan kamu baca buku. Katanya mau lulus SPMB tahun depan. Kamu kan pintar, sayang loh,” nasihat Salsa yang usianya 2 tahun lebih tua dariku. Ia memilih bekerja bukan berarti tidak ingin kuliah. Salsa sedang mengumpulkan uang dan kalau nanti sudah cukup, ia ingin kursus saja. Zaman sekarang yang dibutuhkan adalah keterampilan dibanding otak. Apalagi Salsa lebih suka berkerja sendiri daripada dibawah suruhan orang lain.
“Ah, Salsa tahu aja! Nggak apa-apa kok, aku nggak akan gila hanya karena mikirin makhluk dari Venus itu!”
Salsa menggelengkan kepalanya. Kok ada calon dokter yang aneh seperti Naura, begitu batinnya.
* * *
“Pst! Sa!” panggilku pelan pada Salsa. Matanya hanya menoleh sesaat kearahku sambil mengangkat sedikit. Cukup memberi arti agar aku melanjutkan perkataanku tanpa harus menunggunya mengatakan, “Apa?”
“Jam 1!”
“Makan siang?”
“Cowok!”
Beneran. Cowok tulen! Dia memakai kemeja berwarna biru laut, teduh aku melihatnya. Dari arah jam 1, ia berjalan menuju kassa. Ya ampun, di lantai ini kan hanya ada dua kassa. Kassaku dan kassa Salsa. Aku tersenyum cukup lebar untuk menarik perhatiannya. Akhirnya dia menghampiri kassaku dan menaruh dua buku tebal di atas meja kasir. Buku pertama adalah kamus Indonesia-Prancis, wah... romantis! Begitu orang bilang tentang bahasa Prancis. Tapi tidak bagiku, sangat menyulitkan mengucapkan kata dalam bahasa yang dipakai di negara yang memiliki ibu kota Paris. Buku kedua, buku tuntunan agama. Hmm, boleh juga.
Kupaksakan mulutku berucap, “Bisa bahasa Prancis?”
“Adik, bukan saya,” jawabnya terburu-buru. Matanya tak menatap kerahku. Huh! Sombong!
“Kakak yang baik ya, mau beliin buat adik,” aku tersenyum sok imut. Berapa sih usia cowok ini? Dua puluh empat? “Kalau buku yang ini?”
“Buat Kakek saya. Umur dia kan nggak lama lagi, buku kayak gitu penting buat dia.”
Ih! Amit-amit banget nih cowok! Ternyata penampilan memang nggak pernah sesuai dengan isinya.
“71.500,” kataku kesal.
Dia lalu memberikan selembar seratus ribuan. Di dompetnya ada fotonya dengan cewek cantik. Siapa pun cewek itu, kasihan sekali telah mengenal cowok yang mengesalkan itu!
“Ehm!” dehem Salsa setelah cowok rese itu pergi. Aku hanya mendelik kesal kearahnya. “Tugas kamu hanya senyum, menghitung belanjaan mereka, menerima uang, dan ucapkan terima kasih. Nggak usah pake acara rayu-merayu!” lanjut Salsa.
* * *
Tiga hari berlalu. Salsa pikir aku akan kapok dengan ulahku kemarin. Nyatanya aku tetap tergiur oleh cowok-cowok yang berkeliaran sambil menenteng buku.
Kali ini mataku terpaku pada cowok berambut berantakan yang tengah mendorong temannya menuju rak komik. Kayaknya aku kenal banget sama cowok itu.
“Ra! Jangan bengong gitu! Ada yang mau bayar tuh!” Salsa lagi-lagi mengganggu kegiatanku yang amat sangat penting ini.
Kalau saja nggak ada orang yang akan membayar buku di depan kassaku, mataku masih betah mengekori cowok kurus berbaju serba hitam itu. Sambil menghitung harga yang harus dibayar oleh pembeli yang ternyata seorang Ibu berjilbab, aku sesekali mencuri pandang kearah incaranku. Lucu...!
“Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum, mengantar kepergian Ibu tadi.
Setelah itu mataku berlari. Kemana, kemana?
“Rak majalah.”
Hehehe, aku cengengesan. Ternyata Salsa ngeh aku lagi ngincer orang. Bener deh, aku kenal dia. Tapi kok yang ini badannya lebih gede ya? Kelihatanya juga amburadul! Apa dia kakak orang yang kukenal itu ya? Ah, siapa sih?
“Reo!”
“Siapa?”
“Cowok itu namanya Reo! Dia kan kecengan aku waktu SMP, tapi sayang dulu dia udah punya cewek. Lagi pula aku nggak pernah berani nunjukin perasaanku sama dia. Lucu ya, Sa?”
“Iya.”
Tuh kan! Salsa aja sependapat. Reo itu memang lucu kok! Kulitnya kuning, matanya dihiasi bulu mata yang super lentik, hidungnya semi mancung, alis matanya juga tebel. Oh..., aku jadi ingat masa lalu itu.
“Ra! Dia keluar dari toko tuh!” ujar Salsa yang ternyata memperhatikan Reo.
“Oh, tidak!!! My Reo!!!”
* * *
Waktu itu hari Sabtu, jadi aku terus menunggu Sabtu-Sabtu berikutnya dan berharap bisa bertemu lagi dengan Reo, juga merencankan pertemuan-pertemuan berikutnya setelah pertemuan pertama.
Setelah melihat Reo di tempat ini, aku tidak pernah membiarkan mataku belanja. Aku hanya menunggu Reo. Hasilnya, Salsa memuji kerjaku yang semakin giat dan tak pernah melamun lagi.
Penantianku berakhir juga. Reo menunjukkan batang hidungnya. Kali ini tanpa siapa pun yang menemani. Kesempatan emas bagiku, mudah-mudahan dia nggak cuma celingak-celinguk di tempat ini.
Tak sampai lima menit Reo telah mendapatkan buku yang dicari dan tidak berkeliling melihat buku lain seperti Sabtu dulu. Rupanya dia telah merencanakan untuk membeli buku yang kini dibawanya menuju kassa.
Loh kok? Kenapa ke kassa Salsa. Disini kan kosong!
“Silahkan ke kassa sebelah,” ujar Salsa seraya mengedipkan matanya padaku.
Thanks!
“30 ribu rupiah. Novel cinta?” tanyaku heran tanpa menatap matanya.
“Untuk pacar saya,” jawabnya sambil menyodorkan lima puluh ribuan.
“Oh. Uangnya 50 ribu, kembali 20 ribu. Terima kasih.”
Reo berlalu dengan angkuhnya, sama seperti dulu. Dia selalu berjalan dengan mengangkat kepala dan berbusung dada. Tapi memang itu yang membuatnya menarik di mata para cewek. Aku juga masih sama seperti dulu, malu untuk menunjukkan rasa. Sepertinya, niatku bekerja di tempat ini akan segera berubah sesaat lagi. Huf...
* * *